Kamis, 14 Februari 2013

[FF YeWook] Blood of Love//GS//Chapter 1




Prologue  POV
Matahari hampir terbenam, senja mulai berdatangan. Raungan serigala pun mulai terdengar. Begitu sangat sunyi hutan yang dipenuhi dengan pepohonan yang rimbun ini. Sebagian binatang keluar dari sarangnya untuk mencari makan, tetapi ada pula binatang yang enggan keluar di hari yang senja itu.

‘Krusuk..krusuukkkk’

Daun-daun saling bergesekan. Di balik dedaunan yang rimbun tersebut terdapat binatang yang selama ini sudah menjadi bagian dalam hutan tersebut. Awan semakin gelap, matahari sudah tenggelam. Meskipun suasana sudah menjadi gelap, namun tak ada seorangpun yang dapat menghentikan perburuannya.

Langkah kakinya yang cepat membuatnya mudah untuk mendapatkan mangsa di malam tersebut. Seekor rusa yang tak berdaya menjadi santapan malamnya. Ia bukanlah binatang seutuhnya dan juga bukan manusia seutuhnya. Ia termasuk dalam golongan manusia yang bertingkah seperti seekor binatang yang selalu haus darah atau dapat disebut seorang ‘Vampir.’
Prologue POV end

Appa!” ujar seorang namja bernama Donghae. Ia baru saja pulang dari Amerika untuk melanjutkan kuliahnya.
“Oh~ anakku. Kau sudah kembali?” balas pria paruh baya tersebut yang bernama Kangin seraya memeluk anak kesayangannya itu.

Namun mata Donghae terus mencari-cari sosok yang hilang baginya. Ia pun segera melepaskan pelukan dari ayahnya. “Appa. Apakah Ryeowook masih tinggal bersama kita?”

“Tentu saja. Ia tak punya siapa-siapa lagi selain appa.”
“Lalu dimana dia?”
Kangin pun terkekeh sejenak. “Kau lupa dia kan kuliah dan hari ini bukan weekend.”
“Oh iya. Aku lupa. Baiklah kalau gitu aku ke kamar dulu.”
“Oke. Tapi setelah itu segera turun, karena appa sudah membuatkan makanan kesukaanmu.”
“Siap bos!”
Donghae pun segera naik ke atas tangga menuju kamarnya. “Wow~ kamarku begitu rapi.”
Tiba-tiba suara lain datang dari belakang Donghae. “Itu semua ulah sepupumu, Ryeowook.”
“Ahh~ appa bukannya kau di bawah? Ujar Donghae yang terkejut.
Lagi-lagi Kangin pun terkekeh. “Appa hanya mau bilang saatnya makan siang.” Lalu Kangin pun segera turun ke bawah.
Mwo? Ini semua ulah Ryeowook? Jadi selama aku tidak ada, dia yang mengurusi kamarku?”gumam Donghae.
“Donghae, ayo makan siang!” teriak Kangin. Donghae pun segera turun ke bawah.
***

Appa~ Ryeowook kapan pulang?” tanya Donghae.
“Sekitar jam lima,” jawab Kangin. Donghae segera melihat jam dinding yang menunjukkan pukul lima kurang 5 menit. “Sebentar lagi Ryeowook pulang,” gumamnya.

Seseorang membukan pintu dan berjalan dengan ekspresinya yang lelah. “Itu Ryeowook,” celetuk Kangin. Donghae langsung melesat ke ambang pintu dan benar saja sosok yeoja bertubuh mungil nan cantik telah muncul.

“Ryeowook!” teriak Donghae dan langsung memeluk tubuh mungil yeoja tersebut.
“Hey apa-apaan ini! Siapa kau?!” ucap Ryeowook dengan garang dan langsung melepaskan pelukan Donghae.
Betapa terkejutnya Ryeowook saat mendapati sosok namja yang sangat Ryeowook rindukan selama ini. “Donghae,” ucapnya dengan ekspresi terkejut.
“Ryeowook ada apa denganmu? Kau tidak merindukanku? Aku tahu aku bukan sepupu kandungmu tapi apakah salah aku sebagai temanmu…” belum sempat melanjutkan kalimatnya Ryeowook langsung memeluk tubuh Donghae dengan sangat erat.
“Omong kosong jika aku tidak merindukanmu, aku benar-benar merindukanmu Donghae, sangat merindukanmu,” ucap Ryeowook saking semangatnya.
“Ryeowook kau mau membunuhku dengan pelukanmu yang sangat kuat?” ucap Donghae sembari terengah-engah.
“Aduh jeongmal mianhae, aku tak bermaksud menyakitimu,” ucap Ryeowook dengan wajah polosnya.
“Ryeowook makan dulu sana, kau terlihat lelah,” ucap Kangin.
“Siap ahjusshi!” balas Ryeowook.
“Bagaimana kuliah disini enak?” tanya Donghae.
“Ya,” jawab Ryeowook dengan singkat seraya mengunyah makanan yang masih penuh di mulutnya.
“Apa aku boleh tanya sesuatu?” tanya Donghae lagi.
“Tentu.”
“Apa kau sudah memiliki pacar disini?” tanya Donghae dengan serius. Ryeowook pun terhenti mengunyah makanannya.

‘Uhukkk..uhukkk’

“Eh maaf. Aku enggak bermaksud bikin kamu tersedak. Maafkan ucapanku tadi,” ujar Donghae seraya menyodorkan segelas air putih.
Gwenchana Donghae. Sebenarnya aku belum punya pacar disini dan aku tidak terlalu memikirkan hal itu,” ujar Ryeowook.
Donghae pun hanya mengangguk tanda untuk meresponnya. “Oh iya bagaimana dengan kuliahmu di Amerika? It was funny?” tanya Ryeowook.
“Sejak kapan kau bisa bahasa Inggris?” tanya Donghae.
Ryeowook pun terkekeh. “Aku juga mempelajarinya disini, jadi sedikit-dikit aku tahu bahasa Inggris.”
“Bagus.”
***

Ahjusshi sebentar lagi kan aku liburan. Apa kau ada rencana?” tanya Ryeowook kepada Kangin yang tengah asyik membaca koran.
“Rencana liburan? Entahlah aku belum memikirkannya,” jawab kangin santai.
“Ayolah appa tidak mungkin kan liburan hanya dirumah saja,” timpal Donghae.
Kangin pun melipat kembali koran yang telah dibacanya dan mulai membahas dengan serius permintaan Ryeowook dan juga Donghae. “Baiklah, kalian ingin kemana?”
“Kenapa kita tidak pergi ke suatu tempat yang sepi, sejuk dan yang pasti jauh dari keramaian kota,” ujar Ryeowook.
“Bagaimana jika kita berlibur ke desa. Desa itu kan sepi, suasanannya masih sejuk dan juga jauh dari keramaian. Bagaimana Ryeowook, Donghae?” ucap Kangin seraya mengarah ke arah Ryeowook dan Donghae.
“Bagaimana kalau desa Hahoe. Katanya desa itu desa terbaik di Korea,” ujar Kangin.
“Desa Hahoe? Desa apa itu?” tanya Donghae.
“Aku pernah mendengar namanya tetapi aku tidak tahu tempatnya,” timpal Ryeowook.
“Tenang saja anak-anak, tempat itu akan menjadikan liburan kalian menyenangkan,” ujar Kangin. Kangin pun segera pergi meninggalkan Ryeowook dan Donghae yang masih duduk disana.
***

“Akhirnya liburanku tiba juga,” ucap Ryeowook sembari merebahkan dirinya di atas tempat tidur  Donghae. Donghae pun terkejut dengan kedatangan Ryeowook yang tiba-tiba.
“Ryeowook. Kau senang sekali liburan tahun ini?” ucap Donghae sembari berjalan mendekati Ryeowook yang msih terbaring di tempat tidurnya.
“Tentu saja. Kau tahu aku liburan tidak kemana-mana Kangin ahjusshi sibuk dengan usaha barunya, jadi aku lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Sangat membosankan,” jawab Ryeowook.
“Coba aja ada aku pasti kau tak akan bosan,” goda Donghae.
“Ihh~ kau ini. Tapi ada benarnya juga sih kalau kau disini pasti aku tak kesepian,” ujar Ryeowook seraya tersenyum malu.
“Ya kan akhirnya kau mengaku juga,” balas Donghae.
“Anak-anak siap untuk liburan,” ucap Kangin yang seperti biasa datang secara tiba-tiba. Alhasil Ryeowook dan Donghae pun terkejut.
Ahjusshi. Kau ini seram sekali tiba-tiba muncul,” ujar Ryeowook.

Kangin pun langsung terkekeh geli mendengar pengakuan Ryeowook. “Baiklah maafkan ahjusshi. Jadi bagaimana masalah liburan kita? Apakah jadi?” tanya Kangin dengan ekspresi meyakinkan sembari melirik ke arah Ryeowook.

“TENTU SAJA JADI!” tegas Ryeowook dengan sangat semangat. Sampai-sampai Donghae dan Kangin harus menutup telinga mereka karena suara cempreng Ryeowook yang mengejutkan mereka.
“Ya ampun appa ini gara-garamu Ryeowook seperti ini, coba tahun lalu kau mengajaknya liburan kan tak akan seperti ini,” celetuk Donghae.
Ryeowook dan Kangin pun hanya terkekeh. “Iya-iya maafkan ahjusshi karena ahjusshi tidak mengajakmu liburan tahun lalu. Jadi sekarang ahjusshi akan membayarnya dengan mengajakmu liburan,” jelas Kangin.

“YEAYYYY!!!” teriak  Donghae dan Ryeowook secara bersamaan.
Appa bagaimana jika kita berangkat malam ini saja agar besok pagi kita sudah sampai di Desa Haehoe?” usul Donghae.
“Iya lagipula, kalau malam kan suasana di jalan masih sepi,” timpal Ryeowook.
“Baiklah permintaan dikabulkan. Sekarang kemasi barang kalian,” ucap Kangin sembari tersenyum kecil dan ia pun segera keluar dari kamar Donghae.

Kangin memang memperlakukan Ryeowook dan Donghae seperti anak kecil makanya tak heran jika Donghae maupun Ryeowook terkadang bermaja-manja dengannya. Meskipun Ryeowook sebenarnya bukan keponakan kandungnya tapi Kangin sangat menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri, apalagi jika mengingat kalau Ryeowook adalah anak yatim piatu.

Setelah selesai mengemasi barang, mereka segera pergi. Sepanjang perjalanan Donghae tertidur pulas di mobil sedangkan Ryeowook tengah asik membaca buku sembari menikmati pemandangan di malam hari.

“Baiklah, kita hampir sampai,” ujar Kangin sembari membelokkan mobilnya ke suatu rumah di desa Hahoe.
Jinjja? Kita benar sudah sampai?” tanya Ryeowook sembari membelalakkan matanya. Ia tak menyangka kalau ia harus tinggal di tempat pemukiman tersebut.
“Ya, ayo turun,” perintah Kangin seraya mematikan mesin mobilnya.
“Donghae bangun, kita sudah sampai,” ucap Ryeowook sembari menggoyang-goyangkan tubuh Donghae. Alhasil Donghae pun tersadar.
“Ada apa?” tanya Donghae yang meliuk-liukan tubuhnya.

“Kita sudah sampai, ayo turun,” balas Ryeowook. Ryeowook pun turun dari mobilnya. Ryeowook memperhatikan di setiap kelilingnya. Mata Ryeowook langsung tertuju pada sebuah hutan yang terlihat amat sangat gelap. Bahkan binatang apapun tidak dapat terlihat di hutan tersebut.

“Ryeowook~ kenapa kamu malah diam disini? Kamu tidak mau masuk?” ucap Donghae dan sempat mengejutkan Ryeowook.
“Iya-iya aku segera masuk,” balasnya. Meskipun begitu Ryeowook tetap saja memperhatikan hutan tersebut seakan-akan ada sesuatu yang menarik dirinya untuk memperhatikan hutan tersebut.
“Huh appa?! Kok kita tinggal di tempat yang suasananya seperti ini?” protes Donghae.
“Menurut appa suasana disini sejuk, lagipula hanya pemukiman ini yang harganya  paling murah. Bukan begitu Ryeowook?” tanyanya meminta dukungan.
“Iya,” jawab Ryeowook singkat.
“Baiklah terserah kalian. Ayo Ryeowook,” ucap Donghae yang mengajak Ryeowook sembari membawa barangnya ke kamar yang hendak  ia pilih. Ryeowook pun mengikuti di belakangnya.
“Nah Ryeowook, kamu mau kamar yang mana? Yang ini atau yang itu?” tanya Donghae sembari menunjuk-nunjuk kamarnya. Disana hanya ada tiga kamar. Dua kamar bersebelahan dan itu akan dipergunakan Ryeowook dan Donghae.
“Aku pilih yang itu saja,” jawab Ryeowook.
“Baiklah.”

Merekapun segera masuk ke kamar masing-masing dan segera membereskan barang-barang mereka.
Baru saja memasuki kamarnya, Ryeowook langsung berjalan perlahan menuju jendela yang ada di kamarnya. Ia terus memperhatikan hutan yang amat sangat gelap tersebut. Beberapa detik ia memperhatikan hutan tersebut dan betapa ia sangat terkejut saat mendapati sosok namja berbalut kaos hitam polos. Namja tersebut terlihat mengintip dari sebuah pohon dan lebih mengejutkannya namja tersebut menatap Ryeowook dengan tatapan tajam dan sangar.

Ryeowook langsung menutup tirai jendela tersebut, ia terlihat sangat ketakutan. Tiba-tiba saja Donghae datang mengejutkannya. “Ryeowook?” ucap Donghae sembari menepuk bahu Ryeowook.

Alhasil kedatangan Donghae membuatnya berteriak sesaat dan membuat wajahnya memutih pucat. “Astaga Ryeowook kau kenapa? Kau sakit? Mukamu sangat pucat?” kalimat demi kalimat dilontarkan oleh Donghae karena saking khawatirnya.

Aniya. Aku tak apa-apa,” jawabnya seraya tersenyum kecil.

Donghae pun mulai curiga. Ia melihat Ryeowook menggenggam tirai jendela itu dengan sangat kuat. Tanpa pikir panjang Donghae langsung membuka tirai jendela tersebut. Tanpa Ryeowook sadari, ia langsung memeluk Donghae karena saking ketakutannya.

“Eh..eh.. waeyo?” tanya Donghae yang heran.
“Tutup jendelanya!” perintah Ryeowook. Donghae pun segera menutup jendela tersebut serta langsung melepaskan pelukan Ryeowook dan menatapnya dengan perasaan heran.
“Ada apa denganmu Ryeowook? Kau kenapa?” tanya Donghae yang semakin khawatir dengan Ryeowook.
“Aku tidak apa-apa. Sudahlah Donghae kau tak usah terlalu khawatir padaku,” jawab Ryeowook.
“Benar kau tak apa-apa?” tanya Donghae meyakinkan. Ryeowook pun hanya mengangguk sembari tersenyum kecil.
“Baiklah. Aku kembali ke kamar. Kalau ada sesuatu, panggil aku saja ya,” ujar Donghae.
Ne.” jawabnya.  Donghae langsung kembali ke kamarnya dan meskipun begitu Donghae tak mudah begitu saja percaya dengan ucapan Ryeowook. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
“Ya Tuhan siapa namja tadi? Kenapa ia menatapku seperti itu?” gumam Ryeowook.

Semenjak saat itu Ryeowook menjadi takut untuk membuka tirai jendela. Jika dibuka pun itu hanya di siang hari. Ia terus saja berprasaan heran dan penasaran akan namja tersebut. Siapa namja tersebut? Mengapa ia bisa tinggal di hutan yang gelap seperti itu? Itu saja yang terus dipikirkan Ryeowook sampai saat ini.
***

Rasa penasaran Ryeowook ternyata terus berlanjut. Bahkan ia berencana untuk masuk ke dalam hutan tersebut dan ia berharap dapat menemukan namja tersebut.

Ryeowook berjalan menuju pintu dengan perlahan. Di hari itu Ryeowook benar-benar yakin untuk masuk ke dalam hutan. Diapun nekat untuk pergi sendirian. Namun, sebelum Ryeowook pergi, Donghae melihat Ryeowook yang berjalan menuju arah pintu dengan sigap Donghae langsung menghampiri Ryeowook.

“Ryeowook, kau mau kemana?”
“A-aku mau keluar sebentar. Aku hanya ingin lihat pemandangan diluar saja,” jawab Ryeowook gugup.
“Keluar? Hemm apa perlu aku temani?” tanya Donghae.
“Tak usah, aku sendiri saja. Tolong bilang pada ahjusshi ne?” ujar Ryeowook.
“Baiklah. Jangan pulang terlalu sore ya?” ucap Donghae seraya mengacak-acak rambut Ryeowook.
“Iya aku akan pulang segera,” jawabnya seraya tersenyum.

Ryeowook pun segera pergi. Suasana yang mencekam, udara yang begitu sejuk di dalam hutan, serta banyak pepohonan rimbun tumbuh disana. Ryeowook terus memperhatikan sekelilingnya. “Huh hutan menyeramkan seperti ini, apa benar ada yang tinggal? Tapi disini tidak ada rumah,” gumam Ryeowook.

Mungkin disebelah sana ada pemukiman, pikirnya.

Ryeowook pun melanjutkan perjalanan. Ia terus mencari sebuah pemukiman yang kemungkinan ada disana. Sampai-sampai Ryeowook tak menyadari bahwa dirinya sudah memasuki hutan yang benar-benar dalam bahkan sudah sangat jauh dari pemukimannya.

Matahari kian lama semakin meredup. Cahaya matahari yang menyinari permukaan hutan pun akhirnya menjadi gelap. Bahkan sampai saat itu Ryeowook belum menemukan adanya tanda-tanda keberadaan manusia di hutan tersebut. Ryeowook pun kelelahan setelah beberapa jam memutari hutan tersebut. Ryeowook pun beristirahat di bawah pohon yang sangat rimbun. Baru beberapa menit duduk di bawah pohon, Ryeowook memejamkan matanya.

Satu jam kemudian, Ryeowook terbangun dan kini keadaan hutan hampir sangat gelap. Ryeowook pun berencana untuk kembali ke pemukiman. Tapi sayangnya Ryeowook lupa jalan menuju pemukimannya. Apalagi ditambah suasana di hutan tersebut yang gelap. Ryeowook tetap berjalan menyusuri hutan, tetapi baru beberapa langkah berjalan Ryeowook terpleset dan akhirnya Ryeowook terjatuh ke jurang yang cukup curam.


Sementara itu Kangin dan Donghae bingung akan keberadaan Ryeowook. “Donghae. Dimana Ryeowook? Mengapa sampai sekarang belum kembali kesini?” tanya Kangin yang panik.
“Entahlah appa, tadi ia bilang, ia hanya keluar kesana sebentar,” jawab Donghae dengan raut wajah yang sudah panik.
“Lalu dimana dia?” gumam Kangin.
“Yasudahlah appa aku akan mencarinya sekarang. Aku takut dia tersesat,” ucap Donghae.
“Baiklah. Appa ikut.”

Merekapun segera mencari Ryeowook ke beberapa tempat. Namun, itu semua sia-sia karena Ryeowook tidak dapat ditemukan di suatu tempat pun. Kini Donghae dan Kangin semakin khawatir dan merasa panik, mereka takut sesuatu terjadi pada Ryeowook. Dua jam mereka mengelilingi desa tersebut, akhirnya mereka kembali ke pemukiman tanpa menemukan Ryeowook.


Ryeowook masuk ke jurang dan tak dapat sadarkan diri. Sosok namja tengah berdiri didekat Ryeowook  dan lagi-lagi menatap Ryeowook yang masih terbaring tak sadarkan diri dengan tatapan tajam. “Yeoja ini lagi? Mengapa ia bisa ada disini?” gumam namja misterius tersebut. Desiran angin kencang membuat bulu namja tersebut terbangun, memancarkan mata yang merah semerah darah dan berlaku seperti binatang buas yang sedang lapar.

Tidak..aku tidak boleh membunuh manusia lagi. Tidak boleh. Wanita ini tak bersalah. Aku tak boleh membunuhnya, batin namja tersebut.

Pancaran matanya yang berwarna merah sangar, kini dapat ia redupkan. Iapun mengurungkan niatnya untuk menghisap darah segar yang mengalir dalam tubuh Ryeowook. Tanpa pikir panjang namja misterius tersebut membawa Ryeowook ke tempat tinggalnya yang tidak jauh dari tempat tersebut.

Darah yang mengucur dari kening Ryeowook membuatnya tergiur. Namun, untung saja ia mampu mengatasinya. Ia membersihkan darah tersebut yang mengalir dengan sekuat tenaga menahan rasa dahaga yang menyerang kerongkongannya. Meskipun begitu ia dapat menahannya dan mengganti rasa dahaganya tersebut.

Keesokan harinya Ryeowook tersadar. Ia memperhatikan lagi sekelilingnya. Ia berharap saat ini ia berada di pemukiman.

“Kau sudah sadar?” suara baritone tersebut mengejutkan Ryeowook.
Terdengar Ryeowook menelan ludahnya sendiri karena saat ini ia benar-benar berhadapan dengan orang yang menatapnya saat itu dengat tatapan tajam.
Waeyo? Kau tak perlu takut. Aku bukan hantu. Oh iya minumlah ini, untuk menyembuhkan luka di keningmu,” ujar namja tersebut seraya menyodorkan segelas air berisi ramuan obat.
Ryeowook pun segera mengenggak air yang berisi ramuan obat tersebut. Meski tidak enak rasanya, ia tidak mau protes dan ia meminumnya sampai habis.
“Lebih baik kau beristirahat saja. Aku akan segera kembali,” ucapnya seraya menyeringai.
“Tunggu. Terima kasih banyak karena kau sudah mau menolongku. Jika kau tidak ada, mungkin sekarang aku sudah mati dimakan binatang buas.

Namja tersebut tertawa pelan dan kembali menatap Ryeowook dengan tatapan tajam. “Tidak ada binatang buas yang mau memakanmu,” ledeknya.
“Terserah, yang terpenting aku berterimakasih padamu. Oh iya boleh aku tahu namamu?” tanya Ryeowook dengan ragu-ragu.
“Yesung. Lebih baik kau beristirahat dan jangan terlalu banyak bicara,” ucapnya sinis. Iapun segera melesat pergi untuk meneruskan pemburuannya.
“Aneh sekali orang itu,” gumam Ryeowook.
“Ya ampun rumah ini kotor sekali. Apa dia tidak pernah membersihkannya?” gumam Ryeowook.  

Ryeowook pun merasa gerah melihat kondisi rumah namja tersebut. Tanpa memikir kembali, ia langsung membereskan rumah tersebut sampai benar-benar bersih. Setelah selesai, Ryeowook beristirahat di atas sofa dan tanpa ia sadari ia terlelap dalam tidurnya.

Yesung, telah kembali dari perburuannya. Ia begitu tercengang saat mendapati rumahnya bersih sekali bahkan kini tidak ada lagi debu yang menempel. “Siapa yang membersihkan ini?” gumamnya. Baru melangkah ia sudah mendapati Ryeowook yang tertidur lelap di atas sofanya. Lagi-lagi ia menatap Ryeowook tetapi tidak dengan tatapan tajam. Apa ia yang melakukannya? pikirnya.

Iapun tak ingin membangunkannya dan menanyakan hal sepele seperti itu. Bahkan ia berpikir untuk memasakkan sesuatu untuknya. Kebetulan saja ia mendapat hewan buruan yang banyak, jadi ia bisa membawanya pulang.

Entah bagaimana caranya Yesung memasak dengan bahan hewan buruannya. Baru kali ini Yesung memasak untuk seseorang yang bertamu di rumahnya. Karena selama 100 tahun, tidak ada yang pernah memasuki hutan ini apalagi bertamu di rumahnya.

 ‘Pranggg’

Suara piring pecah dalam dapur membuat Ryeowook  terbangun dari tidurnya. Ia segera menuju asal suara tersebut dan betapa terkejutnya Ryeowook saat mendapati Yesung yang tengah membereskan pecahan piring yang pecah. Ryeowook langsung membantu Yesung dan mengambil pecahan piring tersebut, tapi sayangnya jari manis Ryeowook tergores salah satu pecahan piring yang ia pegang.

“Awww..” rintih Ryeowook yang mendapati tangannya mengucurkan darah. Yesung yang melihatnya tak dapat tahan lagi, rasa dahaganya tak dapat ia bendung lagi. Darah segar yang menetes dari seorang manusia, sungguh sangat lezat baginya. Yesung langsung menarik tangan Ryeowook dengan cepat dan menghisap darah tersebut dengan agresif.

Ryeowook merasa ada aneh dengan Yesung. Lama kelamaan ia merasakan rasa yang amat sakit. Bahkan ia merasa bahwa Yesung telah menghisap semua darahnya. Ryeowook segera memberontak melepaskan hisapan dari Yesung. Yesung segera tersadar dan langsung melepaskan tangan Ryeowook, hampir saja ia hilang kendali.

“Kau mau membunuhku?!” tegas Ryeowook. Yesung tak menyadari perbuatannya tadi, semuanya tak dapat dikendalikan.
“Ah~ jeongmal mianhae. A-aku tak sengaja,” ucap Yesung merasa sangat bersalah.
Aneh sekali orang itu. Pikir Ryeowook sembari menatapnya dalam-dalam.
“Apa yang kau lihat? Sudah sana aku mau meneruskan masakanku,” perintah Yesung. Ryeowook yang tidak terima dengan perlakuan Yesung pun langsung mempoutkan bibirnya. Ryoeowook tidak tahu jika Yesung diam tetapi memperhatikan Ryeowook, Yesung pun hanya bisa terkekeh dalam hati.
“Aku harus pulang. Aku yakin Donghae dan ahjusshi pasti mencariku,” gumamRyeowook yang kebingungan.
“Eh ada apa?” tanya Yesung seraya membawakan hasil masakannnya.
Aniya,” sanggah Ryeowook.
“Kau mau pulang? Nanti akan ku antar. Sebenarnya kau sudah terdampar cukup jauh dari rumahmu,” jelas Yesung. “Sudahlah, pikirkan nanti saja. Sekarang kau makan.”
Ryeowook pun menurut dan langsung memakan makanan yang dibuat Yesung dengan lahap. “Loh kamu tidak makan? Kenapa hanya melihatinya?”tanya Ryeowook yang heran.
“Tak usah, tadi aku sudah makan duluan,” jawab Yesung. Ryeowook pun mengernyitkan alisnya dan menyipitkan matanya, seolah-olah menatap Yesung dengan tatapan yang sinis. Yesung merasa bahwa dirinya diperhatikan oleh Ryeowook. “Hey~ mengapa diam?! Teruskan makannya!” perintah Yesung dan Yesung pun langsung meninggalkan Ryeowook yang masih makan di meja makan.
“Ada apa sih dengan orang itu? sensitif sekali,” gumam Ryeowook.

Selesai makan, Ryeowook langsung membereskan sisa makanan yang ada di atas meja. Ryeowook begitu terkejut saat mendapati kaos putih yang bernoda darah. Ryeowook tahu betul kalau baju itu punya Yesung.

Apa yang Yesung lakukan tadi? Mengapa bajunya banyak sekali darahnya? Batinnya.

‘Srettt’

Dengan cepat Yesung mengambil baju yang di pegang oleh Ryeowook. Ryeowook begitu terkejut dengan kedatangan Yesung yang tiba-tiba. “Apa yang kau lakukan disini?! Untuk apa kau memegang bajuku?! Sudah sana!” kali ini Yesung berbicara dengan menaikkan nada suaranya.

Jeongmal mianhae. Aku hanya…” Yesung pun langsung memotong perkataan Ryeowook. “Ah sudahlah, lebih baik sekarang juga kau ku antar pulang,” ujar Yesung. Yesung langsung menarik tangan Ryeowook dengan kuat. Ryeowook tak bisa berbuat apa-apa selain menurutinya.
“Ayo cepat naik,” ucap Yesung sembari menjongkokan dirinya.
“Hah naik? Maksudnya naik ke punggungmu?” tanya Ryeowook yang masih belum mengerti.
“Tentu saja. Kau mau cepat sampai rumah tidak?”
“Baiklah. Jangan protes jika tubuhku berat,” ucap Ryeowook dengan wajah polosnya.
“Ya, baiklah. Cepat naik,” perintah Yesung kembali.

Ryeowook pun akhirnya menaiki punggung Yesung dengan terpaksa. Sebenarnya ia belum mengerti, mengapa Yesung harus menyuruhnya seperti itu? Tapi apa boleh buat Yesung yang memintanya.
“Sekarang tutup matamu,” ucap Yesung.
“Tutup mata? Untuk apa lagi?” protes Ryeowook.
“Cepat tutup matamu!” bentak Yesung.
“Baiklah,” lirih Ryeowook. Menyebalkan! Jika bukan karena ia mau mengantarku pulang. Aku tidak akan mau di suruh seperti ini. Gerutunya dalam hati.
Yesung pun hanya bisa tersenyum mendengar gerutu Ryeowook. Karena Yesung adalah seorang Vampir, jadi tak heran jika ia dapat membaca pikiran orang lain.
Dalam sekejap Ryeowook sudah sampai di rumah. Ryeowook tidak merasa akan secepat itu sampai rumahnya. Ia tetap berada di atas punggung Yesung.
“Hey. Sudah sampai! Kau ingin seharian di pundakku,” tegas Yesung.
Ryeowook pun segera membuka matanya dan langsung turun dari pundak Yesung. “Memangnya sudah sampai? Kau mau menurunkanku di tengah hutan?” protes Ryeowook lagi. Ia belum tahu kalau di belakangnya itu adalah rumahnya.
“Itu rumahmu,” ucap Yesung sembari menunjuk dengan jarinya. Ryeowook segera berbalik dan betapa terkejut dirinya. Itu memang rumahnya. Yang ia pikirkan, mengapa ia bisa secepat itu sampai rumahnya. Padahal ia jalan kaki saja bisa seharian.
“K-kau? Mengapa bisa secepat ini sampai rumahku, bahkan aku tak merasa kau berjalan menyusuri hutan itu,” ujar Ryeowook.
“Sudahlah, yang terpenting sekarang kau sudah sampai rumah. Sekarang temui pamanmu.”

Aku  masih belum percaya dengan ini. Aku saja jalan kaki tidak secepat ini. sedangkan diu yang menggendongku, bisa secepat ini. ini sangat aneh. Jangan..jangan… pikir Ryeowook.

Ia pun kembali berbalik menghadap Yesung dan Ryeowook tercengang saat mendapati Yesung sudah tak ada di hadapannya. “Loh kemana dia?”
Tanpa pikir panjang, Ryeowook langsung masuk ke dalam rumahnya. “Ahjusshi, Donghae!” panggil Ryeowook.
“Ryeowook! kau sudah kembali!” ucap Donghae dan langsung berlari menghampiri Ryeowook sembari memeluknya.
“Aduh Donghae,” ucap Ryeowook dengan napas terengah-engah. Ia merasa Donghae sudah memeluknya dengan sangat kuat, sampai-sampai Ryeowook sulit bernapas. “Donghae kau mau membunuhku secara perlahan.”
Donghae langsung melepaskan pelukannya. “Aduh maaf Ryeowook. Aku benar-benar merindukanmu.”
“Baru saja dua hari aku tidak ada disini,” ucap Ryeowook.
“Ryeowook kau sudah pulang?” tanya Kangin yang langsung menghampirinya. “Kau kemana saja Ryeowook. Dua hari kau tidak pulang. Kau membuat ahjusshi panik.”
“Emmm…A-aku tersesat, waktu berjalan-jalan kemarin,” jawab Ryeowook.
“Tersesat? Memangnya kau kemana saja?” celetuk Donghae.
“A-aku jalan-jalan sampai ke jalan raya sana,” jawab Ryeowook yang berbohong. Jika ia mengatakan yang sebenarnya pasti nanti ia tidak akan diperbolehkan lagi pergi.
“Yasudah lain kali kalau akan jalan-jalan ajak Donghae untuk menemanimu,” ucap Kangin dan memaklumi Ryeowook.

Hufftt untung saja Kangin ahjusshi tidak curiga. Pikirnya.

“Yasudah Ryeowook lebih baik kau istirahat… Heemm atau kau mau makan dulu?” tanya Donghae.
“Hemm… tak usah aku mau istirahat saja,” jawab Ryeowook dan langsung melangkah menuju kamarnya.
Untuk kedua kalinya Ryeowook kembali mengintip jendela di dalam kamarnya. Jendela yang tak tertutup oleh tirai. Matanya terus menuju ke arah pepohonan yang lebat dalam hutan tersebut. “Aneh sebenarnya dia itu siapa ya? Sikapnya sangat aneh,” gumam Ryeowook.
“Mungkin aku harus kembali lagi ke hutan itu, aku harus cari tahu siapa dia sebenarnya,” gumam Ryeowook lagi dan iapun langsung menutup tirai jendela tersebut.
***

“Ryeowook kau mau kemana lagi?” tanya Donghae yang memergoki Ryeowook tengah melangkah sendirian keluar.
“Emmm…aku hanya ingin jalan-jalan sebentar,” jawab Ryeowook asal.
“Hah? Jalan-jalan lagi? Kali ini aku tidak akan membiarkanmu jalan-jalan sendiri,” ujar Donghae.
“Mengapa? Karena kejadian yang waktu itu? Sudahlah aku tak apa-apa. Ayolah aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar.”

Donghae tak menjawab. Sebenarnya berat rasanya membiarkan Ryeowook pergi keluar sendirian. Apalagi setelah mengetahui kejadian kemarin. Donghae tak mau terulang lagi. Ia begitu sangat menghawatirkan Ryeowook.

“Tapi…” belum meneruskan kalimatnya tiba-tiba saja Ryeowook mengecup pipi Donghae.
“Ayolah…kau kan saudara terbaikku. Jadi biarkan aku pergi sendiri ya?” ucap Ryeowook.
“Hufffttt… baiklah,” ucap Donghae dengan terpaksa.
Ryeowook langsung melesat ke hutan tersebut. Ia mulai menelusuri isi hutan tersebut. Sebenarnya ia belum tahu benar jalan menuju rumah Yesung, tapi ia akan terus berjalan sampai menemui rumah Yesung.
“Aduh… dimana sih rumahnya?” ucap Ryeowook kesal.

‘Krusuukkkk…krusuukkkk’

Daun-daun rimbun saling bergesekan, seperti ada sesuatu dibalik rerimbunan tersebut. Ryeowook curiga dengan apa yang dibalik rimbun tersebut. Perlahan Ryeowook melangkah dengan hati-hati. Perlahan Ryeowook menyibakkan dedaunan untuk melihat dibaliknya. Baru beberapa helai Ryeowook menyibakkan dedaunan tersebut. Tiba-tiba saja sosok namja berbadan kekar dan berbalut kaos hitam tengah berdiri di depannya. Ryeowook begitu terkejut dengan kehadiran Yesung.

“Astaga! Apa yang kau lakukan disini?” tanya Ryeowook yang masih tercengang.
“Seharusnya aku yang menanya padamu. Untuk apa kau kembali lagi ke hutan ini? Kau tidak seharusnya disini! Ini bukan tempatmu,” jelas Yesung.
“A-aku hanya berjalan-jalan,” jawab Ryeowook menyangkal.

Yesung tidak mengetahui jika sedari tadi Ryeowook memperhatikan penampilan Yesung. Ryeowook langsung membelalakkan matanya saat melihat darah masih menempel di dagu Yesung.

“Dagumu kenapa?” tanya Ryeowook polos seraya mengusap darah yang menempel di dagu Yesung.
 “Jangan sentuh!” perintah Yesung.
Waeyo? Dagumu terluka,” ucap Ryeowook lagi dengan wajah innocent-nya.
“Ini bukan luka!” tegas Yesung.
“Loh? Lalu apa?” tanya Ryeowook lagi.
“Ah~ sudahlah, lebih baik kau kembali ke rumahmuu. Kau menggangguku!” ujar Yesung sinis.
“Sebenarnya kau ini manusia atau bukan sih? Sikapmu itu sangat aneh!” celetuk Ryeowook.
Yesung tekejut dengan perkataan Ryeowook. dia tak menyangka Ryeowook akan menanya seperti itu. Yesung pun bingung harus menjawabnya apa. Yesung pun memilih diam dibanding menjawab pertanyaan Ryeowook.
Ryeowook yang mulai merasa kesal langsung melangkah dan berbalik arah ke hadapan Yesung. Ryeowook terus menuntut jawaban dari Yesung.
“Minggir! Apa yang ingin kau lakukan?!” tegas Yesung.
“Aku hanya ingin kau menceritakan yanng sebenarnya. Aku merasa ada yang ganjil pada dirimu. Semenjak pertama aku melihatmu, aku merasa ada yang kau sembunyikan.”
“Kau benar-benar ingin mengetahui mengenai diriku sebenarnya?”
“Tentu.” Jawab Ryeowook seraya menganggukan kepalanya.
“Ikut aku!” perintah Yesung seraya menarik tangan Ryeowook ke suatu tempat. “Diam disini!” perintah Yesung lagi. Ryeowook pun hanya bisa menurut.

Di tengah-tengah pohon yang besar, ada sepintas cahaya matahari yang begitu terang. Meskipun hanya sepintas, hal itu Yesung manfaatkan untuk menunjukkan wujud aslinya. Di bawah sinar matahari yang terang, Yesung berdiri sembari membuka kaos hitam yang membalut tubuhnya.

Betapa tak percayanya Ryeowook. Tubuh Yesung menjadi warna keemasan saat sinar tersebut menyinari tubuhnya. Ryeowook masih tak mengerti, mengapa Yesung bisa seperti itu?  Nalar Ryeowook belum bisa berjalan.

“Bagaimana? Kau mengerti kan? Aku ini tidak sama seperti kamu. Aku memanng berwujud manusia tapi jiwaku seperti binatang,” jelas Yesung.
“A-aku belum bisa mengerti ini semua? Memangnya kau makhluk apa jika bukan manusia?” ucap Ryeowook.
“Baiklah. Aku akan menunjukkan sifat asliku lagi. Mungkin dengan ini kau akan mengerti.”

Yesung terus berjalan menyusuri hutan. Matanya berubah menjadi merah nanar. Seolah sedang menunggu mangsa di hadapannya. Ryeowook pun hanya berani melihatnya dari jarak jauh. Mata Yesung menangkap dengan cepat suatu objek yang akan dijadikan mangsanya. Seekor rusa berjalan dengan lamban mencari dedaunan untuk dimakannya. Tiba-tiba dengan insting yang kuat Yesung langsung menerkam rusa tersebut dan mengoyaknya sampai tak berdaya.

“Astaga!” ujar Ryeowook yang tercengang melihat kelakuan Yesung saat memburu makanannya. Ryeowook melangkah mundur secara perlahan.

‘Krekkk’

Ranting pohon yang ada dibawahnya telah ia injak. Kala itu Yesung yang masih dalam keadaan berburu segera menoleh ke arah Ryeowook dan langsung mengejar Ryeowook.  Yesung tak bisa mengendalilkan dirinya, kini dirinya masih dalam insting pemburu. Ryeowook mulai ketakutan dengan sifat asli Yesung.
Ryeowook langsung berlari. Namun, sayang lari Ryeowook kalah cepat dengan Yesung. Baru mau melangkahkan kaki. Yesung tengah berada di depannya.

“Y-yesung…a-apa yang akan kau lakukan?” tanya Ryeowook yang terbata-bata. Kini tubuhnya menjadi lemas saat langsung berhadapan dengan Yesung. Pikiran Yesung yang tak bisa mengontrol diri, Yesung pun langsung membaringkan Ryeowook ke atas tanah dengan posisi seperti seperti seorang serigala yang hendak memakan mangsa. Ryeowook hanya pasrah dan terus ketakutan.

Mata Yesung yang tadinya berwarna merah nanar, kini menjadi meredup dan kembali seperti semula. Ryeowook sangat beruntung karena Yesung dapat mengendalikan dirinya kembali. Yesung langsung bangun dan bingung dengan perlakuannya pada Ryeowook.

“A-apa kau mau membunuhku juga?” tanya Ryeowook.
Membunuhnya? Astaga Tuhan~ apa yang telah ku lakukan pada Ryeowook? Ryeowook bukanlah hewan yang ku jadikan mangsa. Pikir Yesung.

Yesung langsung membangunkan Ryeowook yang terbaring tak berdaya di atas tanah. Ryeowook masih enggan bersentuhanbdengan Yesung, dengan ragu Ryeowook menolak bantuan Yesung.

“Ayolah~ maafkan aku. Aku tak bermaksud membunuhmu. Aku tak bermaksud menjadikanmu mangsaku. Tadi aku hilang kendali. Ayolah bangun,” ujar Yesung seraya menarik tangan Ryeowook untuk berdiri.
Melihat Ryeowook yang seperti itu. Hati Yesung merasa luluh. Yesung langsung menarik tubuh Ryeowook ke dalam dekapannya. Yesung berusaha menenangkan perasaan Ryeowook yang masih kalut dan ketakutan.

Jeongmal mianhae. Aku tak ingin menyakitimu dan aku berjanji aku tak akan menyakitimu,” ucap Yesung sembari mengusap-usap kepala Ryeowook. Yesung terus mendekap Ryeowook dalam tubuhnya. Ryeowook pun tak berkata sepatah katapun karena rasa takut masih menyelimutinya.




To

Be 

          Continue..........






Tidak ada komentar:

Posting Komentar