Prologue
POV
Matahari hampir
terbenam, senja mulai berdatangan. Raungan serigala pun mulai terdengar. Begitu
sangat sunyi hutan yang dipenuhi dengan pepohonan yang rimbun ini. Sebagian
binatang keluar dari sarangnya untuk mencari makan, tetapi ada pula binatang
yang enggan keluar di hari yang senja itu.
‘Krusuk..krusuukkkk’
Daun-daun saling
bergesekan. Di balik dedaunan yang rimbun tersebut terdapat binatang yang
selama ini sudah menjadi bagian dalam hutan tersebut. Awan semakin gelap,
matahari sudah tenggelam. Meskipun suasana sudah menjadi gelap, namun tak ada
seorangpun yang dapat menghentikan perburuannya.
Langkah kakinya yang
cepat membuatnya mudah untuk mendapatkan mangsa di malam tersebut. Seekor rusa
yang tak berdaya menjadi santapan malamnya. Ia bukanlah binatang seutuhnya dan
juga bukan manusia seutuhnya. Ia termasuk dalam golongan manusia yang
bertingkah seperti seekor binatang yang selalu haus darah atau dapat disebut
seorang ‘Vampir.’
Prologue
POV end
“Appa!” ujar seorang namja bernama Donghae. Ia baru saja pulang dari Amerika untuk
melanjutkan kuliahnya.
“Oh~ anakku. Kau
sudah kembali?” balas pria paruh baya tersebut yang bernama Kangin seraya
memeluk anak kesayangannya itu.
Namun mata
Donghae terus mencari-cari sosok yang hilang baginya. Ia pun segera melepaskan
pelukan dari ayahnya. “Appa. Apakah
Ryeowook masih tinggal bersama kita?”
“Tentu saja. Ia
tak punya siapa-siapa lagi selain appa.”
“Lalu dimana
dia?”
Kangin pun
terkekeh sejenak. “Kau lupa dia kan kuliah dan hari ini bukan weekend.”
“Oh iya. Aku
lupa. Baiklah kalau gitu aku ke kamar dulu.”
“Oke. Tapi
setelah itu segera turun, karena appa
sudah membuatkan makanan kesukaanmu.”
“Siap bos!”
Donghae pun
segera naik ke atas tangga menuju kamarnya. “Wow~ kamarku begitu rapi.”
Tiba-tiba suara
lain datang dari belakang Donghae. “Itu semua ulah sepupumu, Ryeowook.”
“Ahh~ appa bukannya kau di bawah? Ujar Donghae
yang terkejut.
Lagi-lagi Kangin
pun terkekeh. “Appa hanya mau bilang
saatnya makan siang.” Lalu Kangin pun segera turun ke bawah.
“Mwo? Ini semua ulah Ryeowook? Jadi
selama aku tidak ada, dia yang mengurusi kamarku?”gumam Donghae.
“Donghae, ayo
makan siang!” teriak Kangin. Donghae pun segera turun ke bawah.
***
“Appa~ Ryeowook kapan pulang?” tanya
Donghae.
“Sekitar jam lima,”
jawab Kangin. Donghae segera melihat jam dinding yang menunjukkan pukul lima
kurang 5 menit. “Sebentar lagi Ryeowook pulang,” gumamnya.
Seseorang
membukan pintu dan berjalan dengan ekspresinya yang lelah. “Itu Ryeowook,”
celetuk Kangin. Donghae langsung melesat ke ambang pintu dan benar saja sosok yeoja bertubuh mungil nan cantik telah muncul.
“Ryeowook!”
teriak Donghae dan langsung memeluk tubuh mungil yeoja tersebut.
“Hey apa-apaan
ini! Siapa kau?!” ucap Ryeowook dengan garang dan langsung melepaskan pelukan
Donghae.
Betapa
terkejutnya Ryeowook saat mendapati sosok namja
yang sangat Ryeowook rindukan selama ini. “Donghae,” ucapnya dengan ekspresi
terkejut.
“Ryeowook ada
apa denganmu? Kau tidak merindukanku? Aku tahu aku bukan sepupu kandungmu tapi
apakah salah aku sebagai temanmu…” belum sempat melanjutkan kalimatnya Ryeowook
langsung memeluk tubuh Donghae dengan sangat erat.
“Omong kosong
jika aku tidak merindukanmu, aku benar-benar merindukanmu Donghae, sangat
merindukanmu,” ucap Ryeowook saking semangatnya.
“Ryeowook kau
mau membunuhku dengan pelukanmu yang sangat kuat?” ucap Donghae sembari
terengah-engah.
“Aduh jeongmal mianhae, aku tak bermaksud
menyakitimu,” ucap Ryeowook dengan wajah polosnya.
“Ryeowook makan
dulu sana, kau terlihat lelah,” ucap Kangin.
“Siap ahjusshi!” balas Ryeowook.
“Bagaimana
kuliah disini enak?” tanya Donghae.
“Ya,” jawab
Ryeowook dengan singkat seraya mengunyah makanan yang masih penuh di mulutnya.
“Apa aku boleh
tanya sesuatu?” tanya Donghae lagi.
“Tentu.”
“Apa kau sudah
memiliki pacar disini?” tanya Donghae dengan serius. Ryeowook pun terhenti
mengunyah makanannya.
‘Uhukkk..uhukkk’
“Eh maaf. Aku enggak
bermaksud bikin kamu tersedak. Maafkan ucapanku tadi,” ujar Donghae seraya
menyodorkan segelas air putih.
“Gwenchana Donghae. Sebenarnya aku belum
punya pacar disini dan aku tidak terlalu memikirkan hal itu,” ujar Ryeowook.
Donghae pun
hanya mengangguk tanda untuk meresponnya. “Oh iya bagaimana dengan kuliahmu di
Amerika? It was funny?” tanya
Ryeowook.
“Sejak kapan kau
bisa bahasa Inggris?” tanya Donghae.
Ryeowook pun
terkekeh. “Aku juga mempelajarinya disini, jadi sedikit-dikit aku tahu bahasa
Inggris.”
“Bagus.”
***
“Ahjusshi sebentar lagi kan aku liburan.
Apa kau ada rencana?” tanya Ryeowook kepada Kangin yang tengah asyik membaca
koran.
“Rencana
liburan? Entahlah aku belum memikirkannya,” jawab kangin santai.
“Ayolah appa tidak mungkin kan liburan hanya
dirumah saja,” timpal Donghae.
Kangin pun
melipat kembali koran yang telah dibacanya dan mulai membahas dengan serius
permintaan Ryeowook dan juga Donghae. “Baiklah, kalian ingin kemana?”
“Kenapa kita tidak
pergi ke suatu tempat yang sepi, sejuk dan yang pasti jauh dari keramaian
kota,” ujar Ryeowook.
“Bagaimana jika
kita berlibur ke desa. Desa itu kan sepi, suasanannya masih sejuk dan juga jauh
dari keramaian. Bagaimana Ryeowook, Donghae?” ucap Kangin seraya mengarah ke
arah Ryeowook dan Donghae.
“Bagaimana kalau
desa Hahoe. Katanya desa itu desa terbaik di Korea,” ujar Kangin.
“Desa Hahoe?
Desa apa itu?” tanya Donghae.
“Aku pernah
mendengar namanya tetapi aku tidak tahu tempatnya,” timpal Ryeowook.
“Tenang saja
anak-anak, tempat itu akan menjadikan liburan kalian menyenangkan,” ujar
Kangin. Kangin pun segera pergi meninggalkan Ryeowook dan Donghae yang masih
duduk disana.
***
“Akhirnya
liburanku tiba juga,” ucap Ryeowook sembari merebahkan dirinya di atas tempat
tidur Donghae. Donghae pun terkejut
dengan kedatangan Ryeowook yang tiba-tiba.
“Ryeowook. Kau
senang sekali liburan tahun ini?” ucap Donghae sembari berjalan mendekati
Ryeowook yang msih terbaring di tempat tidurnya.
“Tentu saja. Kau
tahu aku liburan tidak kemana-mana Kangin ahjusshi
sibuk dengan usaha barunya, jadi aku lebih sering menghabiskan waktu di rumah.
Sangat membosankan,” jawab Ryeowook.
“Coba aja ada
aku pasti kau tak akan bosan,” goda Donghae.
“Ihh~ kau ini.
Tapi ada benarnya juga sih kalau kau disini pasti aku tak kesepian,” ujar
Ryeowook seraya tersenyum malu.
“Ya kan akhirnya
kau mengaku juga,” balas Donghae.
“Anak-anak siap
untuk liburan,” ucap Kangin yang seperti biasa datang secara tiba-tiba. Alhasil
Ryeowook dan Donghae pun terkejut.
“Ahjusshi. Kau ini seram sekali tiba-tiba
muncul,” ujar Ryeowook.
Kangin pun
langsung terkekeh geli mendengar pengakuan Ryeowook. “Baiklah maafkan ahjusshi. Jadi bagaimana masalah liburan
kita? Apakah jadi?” tanya Kangin dengan ekspresi meyakinkan sembari melirik ke
arah Ryeowook.
“TENTU SAJA JADI!”
tegas Ryeowook dengan sangat semangat. Sampai-sampai Donghae dan Kangin harus
menutup telinga mereka karena suara cempreng Ryeowook yang mengejutkan mereka.
“Ya ampun appa ini gara-garamu Ryeowook seperti
ini, coba tahun lalu kau mengajaknya liburan kan tak akan seperti ini,” celetuk
Donghae.
Ryeowook dan
Kangin pun hanya terkekeh. “Iya-iya maafkan ahjusshi
karena ahjusshi tidak mengajakmu
liburan tahun lalu. Jadi sekarang ahjusshi
akan membayarnya dengan mengajakmu liburan,” jelas Kangin.
“YEAYYYY!!!”
teriak Donghae dan Ryeowook secara bersamaan.
“Appa bagaimana jika kita berangkat malam
ini saja agar besok pagi kita sudah sampai di Desa Haehoe?” usul Donghae.
“Iya lagipula,
kalau malam kan suasana di jalan masih sepi,” timpal Ryeowook.
“Baiklah
permintaan dikabulkan. Sekarang kemasi barang kalian,” ucap Kangin sembari
tersenyum kecil dan ia pun segera keluar dari kamar Donghae.
Kangin memang
memperlakukan Ryeowook dan Donghae seperti anak kecil makanya tak heran jika
Donghae maupun Ryeowook terkadang bermaja-manja dengannya. Meskipun Ryeowook
sebenarnya bukan keponakan kandungnya tapi Kangin sangat menyayanginya seperti
anak kandungnya sendiri, apalagi jika mengingat kalau Ryeowook adalah anak
yatim piatu.
Setelah selesai
mengemasi barang, mereka segera pergi. Sepanjang perjalanan Donghae tertidur
pulas di mobil sedangkan Ryeowook tengah asik membaca buku sembari menikmati
pemandangan di malam hari.
“Baiklah, kita
hampir sampai,” ujar Kangin sembari membelokkan mobilnya ke suatu rumah di desa
Hahoe.
“Jinjja? Kita benar sudah sampai?” tanya
Ryeowook sembari membelalakkan matanya. Ia tak menyangka kalau ia harus tinggal
di tempat pemukiman tersebut.
“Ya, ayo turun,”
perintah Kangin seraya mematikan mesin mobilnya.
“Donghae bangun,
kita sudah sampai,” ucap Ryeowook sembari menggoyang-goyangkan tubuh Donghae.
Alhasil Donghae pun tersadar.
“Ada apa?” tanya
Donghae yang meliuk-liukan tubuhnya.
“Kita sudah
sampai, ayo turun,” balas Ryeowook. Ryeowook pun turun dari mobilnya. Ryeowook
memperhatikan di setiap kelilingnya. Mata Ryeowook langsung tertuju pada sebuah
hutan yang terlihat amat sangat gelap. Bahkan binatang apapun tidak dapat
terlihat di hutan tersebut.
“Ryeowook~
kenapa kamu malah diam disini? Kamu tidak mau masuk?” ucap Donghae dan sempat
mengejutkan Ryeowook.
“Iya-iya aku
segera masuk,” balasnya. Meskipun begitu Ryeowook tetap saja memperhatikan
hutan tersebut seakan-akan ada sesuatu yang menarik dirinya untuk memperhatikan
hutan tersebut.
“Huh appa?! Kok kita tinggal di tempat yang
suasananya seperti ini?” protes Donghae.
“Menurut appa suasana disini sejuk, lagipula hanya
pemukiman ini yang harganya paling
murah. Bukan begitu Ryeowook?” tanyanya meminta dukungan.
“Iya,” jawab Ryeowook
singkat.
“Baiklah
terserah kalian. Ayo Ryeowook,” ucap Donghae yang mengajak Ryeowook sembari
membawa barangnya ke kamar yang hendak
ia pilih. Ryeowook pun mengikuti di belakangnya.
“Nah Ryeowook,
kamu mau kamar yang mana? Yang ini atau yang itu?” tanya Donghae sembari
menunjuk-nunjuk kamarnya. Disana hanya ada tiga kamar. Dua kamar bersebelahan
dan itu akan dipergunakan Ryeowook dan Donghae.
“Aku pilih yang
itu saja,” jawab Ryeowook.
“Baiklah.”
Merekapun segera
masuk ke kamar masing-masing dan segera membereskan barang-barang mereka.
Baru saja
memasuki kamarnya, Ryeowook langsung berjalan perlahan menuju jendela yang ada
di kamarnya. Ia terus memperhatikan hutan yang amat sangat gelap tersebut.
Beberapa detik ia memperhatikan hutan tersebut dan betapa ia sangat terkejut
saat mendapati sosok namja berbalut
kaos hitam polos. Namja tersebut
terlihat mengintip dari sebuah pohon dan lebih mengejutkannya namja tersebut menatap Ryeowook dengan
tatapan tajam dan sangar.
Ryeowook
langsung menutup tirai jendela tersebut, ia terlihat sangat ketakutan.
Tiba-tiba saja Donghae datang mengejutkannya. “Ryeowook?” ucap Donghae sembari
menepuk bahu Ryeowook.
Alhasil
kedatangan Donghae membuatnya berteriak sesaat dan membuat wajahnya memutih
pucat. “Astaga Ryeowook kau kenapa? Kau sakit? Mukamu sangat pucat?” kalimat
demi kalimat dilontarkan oleh Donghae karena saking khawatirnya.
“Aniya. Aku tak apa-apa,” jawabnya seraya
tersenyum kecil.
Donghae pun
mulai curiga. Ia melihat Ryeowook menggenggam tirai jendela itu dengan sangat
kuat. Tanpa pikir panjang Donghae langsung membuka tirai jendela tersebut.
Tanpa Ryeowook sadari, ia langsung memeluk Donghae karena saking ketakutannya.
“Eh..eh.. waeyo?” tanya Donghae yang heran.
“Tutup
jendelanya!” perintah Ryeowook. Donghae pun segera menutup jendela tersebut
serta langsung melepaskan pelukan Ryeowook dan menatapnya dengan perasaan
heran.
“Ada apa
denganmu Ryeowook? Kau kenapa?” tanya Donghae yang semakin khawatir dengan
Ryeowook.
“Aku tidak
apa-apa. Sudahlah Donghae kau tak usah terlalu khawatir padaku,” jawab
Ryeowook.
“Benar kau tak
apa-apa?” tanya Donghae meyakinkan. Ryeowook pun hanya mengangguk sembari
tersenyum kecil.
“Baiklah. Aku
kembali ke kamar. Kalau ada sesuatu, panggil aku saja ya,” ujar Donghae.
“Ne.” jawabnya. Donghae langsung kembali ke kamarnya dan
meskipun begitu Donghae tak mudah begitu saja percaya dengan ucapan Ryeowook.
Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
“Ya Tuhan siapa namja tadi? Kenapa ia menatapku seperti
itu?” gumam Ryeowook.
Semenjak saat
itu Ryeowook menjadi takut untuk membuka tirai jendela. Jika dibuka pun itu hanya
di siang hari. Ia terus saja berprasaan heran dan penasaran akan namja
tersebut. Siapa namja tersebut? Mengapa
ia bisa tinggal di hutan yang gelap seperti itu? Itu saja yang terus
dipikirkan Ryeowook sampai saat ini.
***
Rasa penasaran
Ryeowook ternyata terus berlanjut. Bahkan ia berencana untuk masuk ke dalam
hutan tersebut dan ia berharap dapat menemukan namja tersebut.
Ryeowook
berjalan menuju pintu dengan perlahan. Di hari itu Ryeowook benar-benar yakin
untuk masuk ke dalam hutan. Diapun nekat untuk pergi sendirian. Namun, sebelum
Ryeowook pergi, Donghae melihat Ryeowook yang berjalan menuju arah pintu dengan
sigap Donghae langsung menghampiri Ryeowook.
“Ryeowook, kau mau kemana?”
“A-aku mau
keluar sebentar. Aku hanya ingin lihat pemandangan diluar saja,” jawab Ryeowook
gugup.
“Keluar? Hemm
apa perlu aku temani?” tanya Donghae.
“Tak usah, aku
sendiri saja. Tolong bilang pada ahjusshi
ne?” ujar Ryeowook.
“Baiklah. Jangan
pulang terlalu sore ya?” ucap Donghae seraya mengacak-acak rambut Ryeowook.
“Iya aku akan
pulang segera,” jawabnya seraya tersenyum.
Ryeowook pun
segera pergi. Suasana yang mencekam, udara yang begitu sejuk di dalam hutan,
serta banyak pepohonan rimbun tumbuh disana. Ryeowook terus memperhatikan
sekelilingnya. “Huh hutan menyeramkan seperti ini, apa benar ada yang tinggal?
Tapi disini tidak ada rumah,” gumam Ryeowook.
Mungkin
disebelah sana ada pemukiman, pikirnya.
Ryeowook pun
melanjutkan perjalanan. Ia terus mencari sebuah pemukiman yang kemungkinan ada
disana. Sampai-sampai Ryeowook tak menyadari bahwa dirinya sudah memasuki hutan
yang benar-benar dalam bahkan sudah sangat jauh dari pemukimannya.
Matahari kian
lama semakin meredup. Cahaya matahari yang menyinari permukaan hutan pun akhirnya
menjadi gelap. Bahkan sampai saat itu Ryeowook belum menemukan adanya
tanda-tanda keberadaan manusia di hutan tersebut. Ryeowook pun kelelahan
setelah beberapa jam memutari hutan tersebut. Ryeowook pun beristirahat di
bawah pohon yang sangat rimbun. Baru beberapa menit duduk di bawah pohon, Ryeowook
memejamkan matanya.
Satu jam
kemudian, Ryeowook terbangun dan kini keadaan hutan hampir sangat gelap.
Ryeowook pun berencana untuk kembali ke pemukiman. Tapi sayangnya Ryeowook lupa
jalan menuju pemukimannya. Apalagi ditambah suasana di hutan tersebut yang
gelap. Ryeowook tetap berjalan menyusuri hutan, tetapi baru beberapa langkah
berjalan Ryeowook terpleset dan akhirnya Ryeowook terjatuh ke jurang yang cukup
curam.
Sementara itu
Kangin dan Donghae bingung akan keberadaan Ryeowook. “Donghae. Dimana Ryeowook?
Mengapa sampai sekarang belum kembali kesini?” tanya Kangin yang panik.
“Entahlah appa, tadi ia bilang, ia hanya keluar
kesana sebentar,” jawab Donghae dengan raut wajah yang sudah panik.
“Lalu dimana
dia?” gumam Kangin.
“Yasudahlah appa aku akan mencarinya sekarang. Aku
takut dia tersesat,” ucap Donghae.
“Baiklah. Appa ikut.”
Merekapun segera
mencari Ryeowook ke beberapa tempat. Namun, itu semua sia-sia karena Ryeowook
tidak dapat ditemukan di suatu tempat pun. Kini Donghae dan Kangin semakin khawatir
dan merasa panik, mereka takut sesuatu terjadi pada Ryeowook. Dua jam mereka
mengelilingi desa tersebut, akhirnya mereka kembali ke pemukiman tanpa
menemukan Ryeowook.
Ryeowook masuk
ke jurang dan tak dapat sadarkan diri. Sosok namja tengah berdiri didekat Ryeowook dan lagi-lagi menatap Ryeowook yang masih
terbaring tak sadarkan diri dengan tatapan tajam. “Yeoja ini lagi? Mengapa ia bisa ada disini?” gumam namja misterius tersebut. Desiran angin
kencang membuat bulu namja tersebut
terbangun, memancarkan mata yang merah semerah darah dan berlaku seperti
binatang buas yang sedang lapar.
Tidak..aku
tidak boleh membunuh manusia lagi. Tidak boleh. Wanita ini tak bersalah. Aku
tak boleh membunuhnya, batin namja tersebut.
Pancaran matanya
yang berwarna merah sangar, kini dapat ia redupkan. Iapun mengurungkan niatnya
untuk menghisap darah segar yang mengalir dalam tubuh Ryeowook. Tanpa pikir
panjang namja misterius tersebut
membawa Ryeowook ke tempat tinggalnya yang tidak jauh dari tempat tersebut.
Darah yang
mengucur dari kening Ryeowook membuatnya tergiur. Namun, untung saja ia mampu
mengatasinya. Ia membersihkan darah tersebut yang mengalir dengan sekuat tenaga
menahan rasa dahaga yang menyerang kerongkongannya. Meskipun begitu ia dapat
menahannya dan mengganti rasa dahaganya tersebut.
Keesokan harinya
Ryeowook tersadar. Ia memperhatikan lagi sekelilingnya. Ia berharap saat ini ia
berada di pemukiman.
“Kau sudah
sadar?” suara baritone tersebut mengejutkan Ryeowook.
Terdengar
Ryeowook menelan ludahnya sendiri karena saat ini ia benar-benar berhadapan dengan
orang yang menatapnya saat itu dengat tatapan tajam.
“Waeyo? Kau tak perlu takut. Aku bukan
hantu. Oh iya minumlah ini, untuk menyembuhkan luka di keningmu,” ujar namja tersebut seraya menyodorkan
segelas air berisi ramuan obat.
Ryeowook pun
segera mengenggak air yang berisi ramuan obat tersebut. Meski tidak enak
rasanya, ia tidak mau protes dan ia meminumnya sampai habis.
“Lebih baik kau
beristirahat saja. Aku akan segera kembali,” ucapnya seraya menyeringai.
“Tunggu. Terima
kasih banyak karena kau sudah mau menolongku. Jika kau tidak ada, mungkin
sekarang aku sudah mati dimakan binatang buas.
Namja
tersebut tertawa pelan dan kembali menatap Ryeowook dengan tatapan tajam.
“Tidak ada binatang buas yang mau memakanmu,” ledeknya.
“Terserah, yang
terpenting aku berterimakasih padamu. Oh iya boleh aku tahu namamu?” tanya
Ryeowook dengan ragu-ragu.
“Yesung. Lebih
baik kau beristirahat dan jangan terlalu banyak bicara,” ucapnya sinis. Iapun
segera melesat pergi untuk meneruskan pemburuannya.
“Aneh sekali
orang itu,” gumam Ryeowook.
“Ya ampun rumah
ini kotor sekali. Apa dia tidak pernah membersihkannya?” gumam Ryeowook.
Ryeowook pun merasa gerah melihat kondisi
rumah namja tersebut. Tanpa memikir kembali, ia langsung membereskan rumah
tersebut sampai benar-benar bersih. Setelah selesai, Ryeowook beristirahat di
atas sofa dan tanpa ia sadari ia terlelap dalam tidurnya.
Yesung, telah
kembali dari perburuannya. Ia begitu tercengang saat mendapati rumahnya bersih
sekali bahkan kini tidak ada lagi debu yang menempel. “Siapa yang membersihkan
ini?” gumamnya. Baru melangkah ia sudah mendapati Ryeowook yang tertidur lelap
di atas sofanya. Lagi-lagi ia menatap Ryeowook tetapi tidak dengan tatapan
tajam. Apa ia yang melakukannya? pikirnya.
Iapun tak ingin
membangunkannya dan menanyakan hal sepele seperti itu. Bahkan ia berpikir untuk
memasakkan sesuatu untuknya. Kebetulan saja ia mendapat hewan buruan yang
banyak, jadi ia bisa membawanya pulang.
Entah bagaimana
caranya Yesung memasak dengan bahan hewan buruannya. Baru kali ini Yesung
memasak untuk seseorang yang bertamu di rumahnya. Karena selama 100 tahun,
tidak ada yang pernah memasuki hutan ini apalagi bertamu di rumahnya.
‘Pranggg’
Suara piring
pecah dalam dapur membuat Ryeowook
terbangun dari tidurnya. Ia segera menuju asal suara tersebut dan betapa
terkejutnya Ryeowook saat mendapati Yesung yang tengah membereskan pecahan
piring yang pecah. Ryeowook langsung membantu Yesung dan mengambil pecahan
piring tersebut, tapi sayangnya jari manis Ryeowook tergores salah satu pecahan
piring yang ia pegang.
“Awww..” rintih
Ryeowook yang mendapati tangannya mengucurkan darah. Yesung yang melihatnya tak
dapat tahan lagi, rasa dahaganya tak dapat ia bendung lagi. Darah segar yang
menetes dari seorang manusia, sungguh sangat lezat baginya. Yesung langsung
menarik tangan Ryeowook dengan cepat dan menghisap darah tersebut dengan
agresif.
Ryeowook merasa
ada aneh dengan Yesung. Lama kelamaan ia merasakan rasa yang amat sakit. Bahkan
ia merasa bahwa Yesung telah menghisap semua darahnya. Ryeowook segera
memberontak melepaskan hisapan dari Yesung. Yesung segera tersadar dan langsung
melepaskan tangan Ryeowook, hampir saja ia hilang kendali.
“Kau mau
membunuhku?!” tegas Ryeowook. Yesung tak menyadari perbuatannya tadi, semuanya
tak dapat dikendalikan.
“Ah~ jeongmal mianhae. A-aku tak sengaja,”
ucap Yesung merasa sangat bersalah.
Aneh
sekali orang itu. Pikir Ryeowook sembari menatapnya
dalam-dalam.
“Apa yang kau
lihat? Sudah sana aku mau meneruskan masakanku,” perintah Yesung. Ryeowook yang
tidak terima dengan perlakuan Yesung pun langsung mempoutkan bibirnya.
Ryoeowook tidak tahu jika Yesung diam tetapi memperhatikan Ryeowook, Yesung pun
hanya bisa terkekeh dalam hati.
“Aku harus
pulang. Aku yakin Donghae dan ahjusshi
pasti mencariku,” gumamRyeowook yang kebingungan.
“Eh ada apa?”
tanya Yesung seraya membawakan hasil masakannnya.
“Aniya,” sanggah Ryeowook.
“Kau mau pulang?
Nanti akan ku antar. Sebenarnya kau sudah terdampar cukup jauh dari rumahmu,”
jelas Yesung. “Sudahlah, pikirkan nanti saja. Sekarang kau makan.”
Ryeowook pun
menurut dan langsung memakan makanan yang dibuat Yesung dengan lahap. “Loh kamu
tidak makan? Kenapa hanya melihatinya?”tanya Ryeowook yang heran.
“Tak usah, tadi
aku sudah makan duluan,” jawab Yesung. Ryeowook pun mengernyitkan alisnya dan
menyipitkan matanya, seolah-olah menatap Yesung dengan tatapan yang sinis.
Yesung merasa bahwa dirinya diperhatikan oleh Ryeowook. “Hey~ mengapa diam?!
Teruskan makannya!” perintah Yesung dan Yesung pun langsung meninggalkan
Ryeowook yang masih makan di meja makan.
“Ada apa sih
dengan orang itu? sensitif sekali,” gumam Ryeowook.
Selesai makan,
Ryeowook langsung membereskan sisa makanan yang ada di atas meja. Ryeowook
begitu terkejut saat mendapati kaos putih yang bernoda darah. Ryeowook tahu
betul kalau baju itu punya Yesung.
Apa
yang Yesung lakukan tadi? Mengapa bajunya banyak sekali darahnya?
Batinnya.
‘Srettt’
Dengan cepat
Yesung mengambil baju yang di pegang oleh Ryeowook. Ryeowook begitu terkejut
dengan kedatangan Yesung yang tiba-tiba. “Apa yang kau lakukan disini?! Untuk
apa kau memegang bajuku?! Sudah sana!” kali ini Yesung berbicara dengan
menaikkan nada suaranya.
“Jeongmal mianhae. Aku hanya…” Yesung pun
langsung memotong perkataan Ryeowook. “Ah sudahlah, lebih baik sekarang juga
kau ku antar pulang,” ujar Yesung. Yesung langsung menarik tangan Ryeowook
dengan kuat. Ryeowook tak bisa berbuat apa-apa selain menurutinya.
“Ayo cepat
naik,” ucap Yesung sembari menjongkokan dirinya.
“Hah naik?
Maksudnya naik ke punggungmu?” tanya Ryeowook yang masih belum mengerti.
“Tentu saja. Kau
mau cepat sampai rumah tidak?”
“Baiklah. Jangan
protes jika tubuhku berat,” ucap Ryeowook dengan wajah polosnya.
“Ya, baiklah.
Cepat naik,” perintah Yesung kembali.
Ryeowook pun
akhirnya menaiki punggung Yesung dengan terpaksa. Sebenarnya ia belum mengerti,
mengapa Yesung harus menyuruhnya seperti itu? Tapi apa boleh buat Yesung yang
memintanya.
“Sekarang tutup
matamu,” ucap Yesung.
“Tutup mata?
Untuk apa lagi?” protes Ryeowook.
“Cepat tutup
matamu!” bentak Yesung.
“Baiklah,” lirih
Ryeowook. Menyebalkan! Jika bukan karena
ia mau mengantarku pulang. Aku tidak akan mau di suruh seperti ini.
Gerutunya dalam hati.
Yesung pun hanya
bisa tersenyum mendengar gerutu Ryeowook. Karena Yesung adalah seorang Vampir,
jadi tak heran jika ia dapat membaca pikiran orang lain.
Dalam sekejap
Ryeowook sudah sampai di rumah. Ryeowook tidak merasa akan secepat itu sampai
rumahnya. Ia tetap berada di atas punggung Yesung.
“Hey. Sudah
sampai! Kau ingin seharian di pundakku,” tegas Yesung.
Ryeowook pun
segera membuka matanya dan langsung turun dari pundak Yesung. “Memangnya sudah
sampai? Kau mau menurunkanku di tengah hutan?” protes Ryeowook lagi. Ia belum
tahu kalau di belakangnya itu adalah rumahnya.
“Itu rumahmu,”
ucap Yesung sembari menunjuk dengan jarinya. Ryeowook segera berbalik dan
betapa terkejut dirinya. Itu memang rumahnya. Yang ia pikirkan, mengapa ia bisa
secepat itu sampai rumahnya. Padahal ia jalan kaki saja bisa seharian.
“K-kau? Mengapa
bisa secepat ini sampai rumahku, bahkan aku tak merasa kau berjalan menyusuri
hutan itu,” ujar Ryeowook.
“Sudahlah, yang
terpenting sekarang kau sudah sampai rumah. Sekarang temui pamanmu.”
Aku
masih belum percaya dengan ini. Aku saja
jalan kaki tidak secepat ini. sedangkan diu yang menggendongku, bisa secepat
ini. ini sangat aneh. Jangan..jangan… pikir Ryeowook.
Ia pun kembali
berbalik menghadap Yesung dan Ryeowook tercengang saat mendapati Yesung sudah
tak ada di hadapannya. “Loh kemana dia?”
Tanpa pikir
panjang, Ryeowook langsung masuk ke dalam rumahnya. “Ahjusshi, Donghae!” panggil Ryeowook.
“Ryeowook! kau
sudah kembali!” ucap Donghae dan langsung berlari menghampiri Ryeowook sembari
memeluknya.
“Aduh Donghae,”
ucap Ryeowook dengan napas terengah-engah. Ia merasa Donghae sudah memeluknya
dengan sangat kuat, sampai-sampai Ryeowook sulit bernapas. “Donghae kau mau
membunuhku secara perlahan.”
Donghae langsung
melepaskan pelukannya. “Aduh maaf Ryeowook. Aku benar-benar merindukanmu.”
“Baru saja dua
hari aku tidak ada disini,” ucap Ryeowook.
“Ryeowook
kau sudah pulang?” tanya Kangin yang langsung menghampirinya. “Kau kemana saja
Ryeowook. Dua hari kau tidak pulang. Kau membuat ahjusshi panik.”
“Emmm…A-aku
tersesat, waktu berjalan-jalan kemarin,” jawab Ryeowook.
“Tersesat?
Memangnya kau kemana saja?” celetuk Donghae.
“A-aku
jalan-jalan sampai ke jalan raya sana,” jawab Ryeowook yang berbohong. Jika ia
mengatakan yang sebenarnya pasti nanti ia tidak akan diperbolehkan lagi pergi.
“Yasudah
lain kali kalau akan jalan-jalan ajak Donghae untuk menemanimu,” ucap Kangin dan
memaklumi Ryeowook.
Hufftt untung saja Kangin ahjusshi tidak
curiga.
Pikirnya.
“Yasudah
Ryeowook lebih baik kau istirahat… Heemm atau kau mau makan dulu?” tanya
Donghae.
“Hemm…
tak usah aku mau istirahat saja,” jawab Ryeowook dan langsung melangkah menuju
kamarnya.
Untuk
kedua kalinya Ryeowook kembali mengintip jendela di dalam kamarnya. Jendela
yang tak tertutup oleh tirai. Matanya terus menuju ke arah pepohonan yang lebat
dalam hutan tersebut. “Aneh sebenarnya dia itu siapa ya? Sikapnya sangat aneh,”
gumam Ryeowook.
“Mungkin
aku harus kembali lagi ke hutan itu, aku harus cari tahu siapa dia sebenarnya,”
gumam Ryeowook lagi dan iapun langsung menutup tirai jendela tersebut.
***
“Ryeowook
kau mau kemana lagi?” tanya Donghae yang memergoki Ryeowook tengah melangkah
sendirian keluar.
“Emmm…aku
hanya ingin jalan-jalan sebentar,” jawab Ryeowook asal.
“Hah?
Jalan-jalan lagi? Kali ini aku tidak akan membiarkanmu jalan-jalan sendiri,”
ujar Donghae.
“Mengapa?
Karena kejadian yang waktu itu? Sudahlah aku tak apa-apa. Ayolah aku hanya
ingin berjalan-jalan sebentar.”
Donghae
tak menjawab. Sebenarnya berat rasanya membiarkan Ryeowook pergi keluar
sendirian. Apalagi setelah mengetahui kejadian kemarin. Donghae tak mau
terulang lagi. Ia begitu sangat menghawatirkan Ryeowook.
“Tapi…”
belum meneruskan kalimatnya tiba-tiba saja Ryeowook mengecup pipi Donghae.
“Ayolah…kau
kan saudara terbaikku. Jadi biarkan aku pergi sendiri ya?” ucap Ryeowook.
“Hufffttt…
baiklah,” ucap Donghae dengan terpaksa.
Ryeowook
langsung melesat ke hutan tersebut. Ia mulai menelusuri isi hutan tersebut.
Sebenarnya ia belum tahu benar jalan menuju rumah Yesung, tapi ia akan terus
berjalan sampai menemui rumah Yesung.
“Aduh…
dimana sih rumahnya?” ucap Ryeowook kesal.
‘Krusuukkkk…krusuukkkk’
Daun-daun
rimbun saling bergesekan, seperti ada sesuatu dibalik rerimbunan tersebut.
Ryeowook curiga dengan apa yang dibalik rimbun tersebut. Perlahan Ryeowook
melangkah dengan hati-hati. Perlahan Ryeowook menyibakkan dedaunan untuk
melihat dibaliknya. Baru beberapa helai Ryeowook menyibakkan dedaunan tersebut.
Tiba-tiba saja sosok namja berbadan
kekar dan berbalut kaos hitam tengah berdiri di depannya. Ryeowook begitu
terkejut dengan kehadiran Yesung.
“Astaga!
Apa yang kau lakukan disini?” tanya Ryeowook yang masih tercengang.
“Seharusnya
aku yang menanya padamu. Untuk apa kau kembali lagi ke hutan ini? Kau tidak
seharusnya disini! Ini bukan tempatmu,” jelas Yesung.
“A-aku
hanya berjalan-jalan,” jawab Ryeowook menyangkal.
Yesung
tidak mengetahui jika sedari tadi Ryeowook memperhatikan penampilan Yesung.
Ryeowook langsung membelalakkan matanya saat melihat darah masih menempel di
dagu Yesung.
“Dagumu
kenapa?” tanya Ryeowook polos seraya mengusap darah yang menempel di dagu
Yesung.
“Jangan sentuh!” perintah Yesung.
“Waeyo? Dagumu terluka,” ucap Ryeowook
lagi dengan wajah innocent-nya.
“Ini
bukan luka!” tegas Yesung.
“Loh?
Lalu apa?” tanya Ryeowook lagi.
“Ah~
sudahlah, lebih baik kau kembali ke rumahmuu. Kau menggangguku!” ujar Yesung
sinis.
“Sebenarnya
kau ini manusia atau bukan sih? Sikapmu itu sangat aneh!” celetuk Ryeowook.
Yesung
tekejut dengan perkataan Ryeowook. dia tak menyangka Ryeowook akan menanya
seperti itu. Yesung pun bingung harus menjawabnya apa. Yesung pun memilih diam
dibanding menjawab pertanyaan Ryeowook.
Ryeowook
yang mulai merasa kesal langsung melangkah dan berbalik arah ke hadapan Yesung.
Ryeowook terus menuntut jawaban dari Yesung.
“Minggir!
Apa yang ingin kau lakukan?!” tegas Yesung.
“Aku
hanya ingin kau menceritakan yanng sebenarnya. Aku merasa ada yang ganjil pada
dirimu. Semenjak pertama aku melihatmu, aku merasa ada yang kau sembunyikan.”
“Kau
benar-benar ingin mengetahui mengenai diriku sebenarnya?”
“Tentu.”
Jawab Ryeowook seraya menganggukan kepalanya.
“Ikut
aku!” perintah Yesung seraya menarik tangan Ryeowook ke suatu tempat. “Diam
disini!” perintah Yesung lagi. Ryeowook pun hanya bisa menurut.
Di
tengah-tengah pohon yang besar, ada sepintas cahaya matahari yang begitu
terang. Meskipun hanya sepintas, hal itu Yesung manfaatkan untuk menunjukkan
wujud aslinya. Di bawah sinar matahari yang terang, Yesung berdiri sembari
membuka kaos hitam yang membalut tubuhnya.
Betapa
tak percayanya Ryeowook. Tubuh Yesung menjadi warna keemasan saat sinar
tersebut menyinari tubuhnya. Ryeowook masih tak mengerti, mengapa Yesung bisa
seperti itu? Nalar Ryeowook belum bisa
berjalan.
“Bagaimana?
Kau mengerti kan? Aku ini tidak sama seperti kamu. Aku memanng berwujud manusia
tapi jiwaku seperti binatang,” jelas Yesung.
“A-aku
belum bisa mengerti ini semua? Memangnya kau makhluk apa jika bukan manusia?”
ucap Ryeowook.
“Baiklah.
Aku akan menunjukkan sifat asliku lagi. Mungkin dengan ini kau akan mengerti.”
Yesung
terus berjalan menyusuri hutan. Matanya berubah menjadi merah nanar. Seolah
sedang menunggu mangsa di hadapannya. Ryeowook pun hanya berani melihatnya dari
jarak jauh. Mata Yesung menangkap dengan cepat suatu objek yang akan dijadikan
mangsanya. Seekor rusa berjalan dengan lamban mencari dedaunan untuk
dimakannya. Tiba-tiba dengan insting yang kuat Yesung langsung menerkam rusa
tersebut dan mengoyaknya sampai tak berdaya.
“Astaga!”
ujar Ryeowook yang tercengang melihat kelakuan Yesung saat memburu makanannya.
Ryeowook melangkah mundur secara perlahan.
‘Krekkk’
Ranting
pohon yang ada dibawahnya telah ia injak. Kala itu Yesung yang masih dalam
keadaan berburu segera menoleh ke arah Ryeowook dan langsung mengejar
Ryeowook. Yesung tak bisa mengendalilkan
dirinya, kini dirinya masih dalam insting pemburu. Ryeowook mulai ketakutan
dengan sifat asli Yesung.
Ryeowook
langsung berlari. Namun, sayang lari Ryeowook kalah cepat dengan Yesung. Baru
mau melangkahkan kaki. Yesung tengah berada di depannya.
“Y-yesung…a-apa
yang akan kau lakukan?” tanya Ryeowook yang terbata-bata. Kini tubuhnya menjadi
lemas saat langsung berhadapan dengan Yesung. Pikiran Yesung yang tak bisa
mengontrol diri, Yesung pun langsung membaringkan Ryeowook ke atas tanah dengan
posisi seperti seperti seorang serigala yang hendak memakan mangsa. Ryeowook
hanya pasrah dan terus ketakutan.
Mata
Yesung yang tadinya berwarna merah nanar, kini menjadi meredup dan kembali
seperti semula. Ryeowook sangat beruntung karena Yesung dapat mengendalikan
dirinya kembali. Yesung langsung bangun dan bingung dengan perlakuannya pada
Ryeowook.
“A-apa
kau mau membunuhku juga?” tanya Ryeowook.
Membunuhnya? Astaga Tuhan~ apa yang
telah ku lakukan pada Ryeowook? Ryeowook bukanlah hewan yang ku jadikan mangsa.
Pikir Yesung.
Yesung
langsung membangunkan Ryeowook yang terbaring tak berdaya di atas tanah. Ryeowook
masih enggan bersentuhanbdengan Yesung, dengan ragu Ryeowook menolak bantuan
Yesung.
“Ayolah~
maafkan aku. Aku tak bermaksud membunuhmu. Aku tak bermaksud menjadikanmu
mangsaku. Tadi aku hilang kendali. Ayolah bangun,” ujar Yesung seraya menarik
tangan Ryeowook untuk berdiri.
Melihat
Ryeowook yang seperti itu. Hati Yesung merasa luluh. Yesung langsung menarik
tubuh Ryeowook ke dalam dekapannya. Yesung berusaha menenangkan perasaan
Ryeowook yang masih kalut dan ketakutan.
To
Be
Continue..........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar